Fadhail Dakwah (Bag. II)

Dibuat Tanggal 26-01-2012
Al-Hayatu Ar-Rabbaniyyah

Dengan semua keutamaan dakwah di atas, berarti seorang da’i dengan dakwahnya sedang menjalani kehidupan rabbaniyyah, kehidupan yang selalu berorientasi kepada Allah swt dan kehidupan yang selalu dinaungi nilai-nilai Al-Quran sebagai sumber kebaikan. Seorang da’i senantiasa bersama Al-Qur’an juga mengajarkannya kepada orang lain.

Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al Kitab, Hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: "Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah." akan tetapi (dia berkata): "Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya. (Ali Imran (3): 79).
 
Rasulullah saw diperintahkan Allah swt untuk mengajak umatnya agar menjadi orang-orang yang rabbani yakni mereka yang selalu belajar dan mengajarkan Al-Quran sehingga hidup mereka menjadi rabbani pula. Dakwah adalah aktivitas belajar dan mengajarkan Al-Quran baik dalam membacanya, memahaminya, mengamalkannya, memperjuangkan hukum-hukumnya, dan konsisten dalam melakukan itu semua.

Kehidupan rabbaniyyah adalah kehidupan seorang da’i yang selalu mengorientasikan semua aktivitasnya kepada Allah swt Rabbnya, di mana kehidupan, kematian, ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah semuanya dipersembahkan untuk Allah swt. Ibadah yang menjadi tujuan hidup semua manusia dilaksanakan untuk mengagungkan Allah swt seagung-agungnya dan untuk menyatakan kehinaan dan kelemahan di hadapan-Nya. Dakwah adalah salah satu bentuk pengagungan kepada Allah yang paling utama, karena di dalamnya seorang da’i meninggikan kalimat-Nya melalui lisannya, amalnya, dan ajakannya kepada orang lain. Di dalam da’wah seorang da’i bersabar menghadapi berbagai ujian berat semata-mata demi mengagungkan Allah swt. Semakin berat tantangan dan ujian dalam mengagungkan Allah swt, semakin besar dan mulia bentuk pengagungan itu di sisi Allah swt.

Katakanlah: “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (Al-An’am (6): 162).

 

Al-Hayah Al-Mubarakah (Kehidupan yang Diberkahi)

Dengan selalu berdakwah di jalan Allah swt seorang da’i telah menjadikan hidupnya penuh keberkahan. Yang dimaksud dengan keberkahan adalah kebaikan yang banyak dan melimpah di sisi Allah swt. Para Nabi alaihimussalam adalah orang yang paling diberkahi dan kehidupannya adalah kehidupan penuh keberkahan, perhatikan ucapan Nabi Isa as tentang dirinya:

Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup. (Maryam (19): 31).
 

Penyebab utama kehidupan Nabi Isa dan para Nabi lainnya diberkahi oleh Allah swt adalah pekerjaan mereka sebagai orang-orang yang dipilih oleh Allah untuk mendakwahkan ajaran-Nya kepada manusia. Inilah yang dipahami oleh Ibnul Qayyim – salah seorang ulama besar – ketika menjelaskan surat Maryam ayat 31 di atas. Beliau berkata:
Keberkahan seseorang itu ada pada:

    Pengajarannya terhadap segala macam kebajikan di mana pun ia berada, dan
    Nasehat yang ia berikan kepada semua orang yang ijtima' (berkumpul) dengannya.

Saat menceritakan tentang nabi Isa – 'alaihissalam - Allah swt berfirman: "Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada". (Q.S. Maryam: 31).

 

Nabi 'Isa – 'alaihissalam - menjadi manusia yang membawa berkah karena ia:
1.      Menjadi guru kebajikan
2.      Juru dakwah yang menyeru manusia kepada Allah swt
3.      Mengingatkan manusia tentang Allah swt
4.      Mendorong dan memotivasi manusia untuk taat kepada Allah swt.[1]

 
Demikian Ibnul Qayyim melihat keberkahan dalam hidup seseorang, di mana kehidupan yang berkah itu - menurut beliau dan sesuai isyarat Al-Quran – ditentukan oleh aktivitas memberi manfaat kepada orang lain melalui dakwah dan kebaikan yang disebarkan demi meninggikan kalimat Allah swt[2]. Wallahu a’lam.

 

Ahmad Yani


[1] Surat Ibnu Qayyim al-Jauziyyah kepada ‘Alauddin dari buku Risalah Ibnil Qayyim ila Ahadi Ikhwanih, hlm 5.

[2] Ibnu Katsir menyebutkan pendapat Mujahid, ‘Amr bin Qais, dan Ats-Tsauri bahwa yang dimaksud dengan “mubarakan” (orang yang diberkahi) dalam surat Maryam ayat 31 adalah “mu’alliman lil khair” (yang mengajarkan kebaikan) “naffa’an” (banyak member manfaat). Sedangkan menurut Ibnu Jarir At-Thabari dalam tafsirnya bahwa keberkahan Nabi Isa as adalah amar ma’ruf nahi munkar yang beliau lakukan di manapun beliau berada.


share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Keniscayaan dan Urgensi Dakwah (Bag. I)
02-03-2012 Fiqh Dakwah

Ketika berada di atas muka bumi ini, manusia langsung disertai pertolongan Allah SWT ...

Baca Selengkapnya

Keutamaan Dakwah (Fadhail Adda’wah)
20-01-2012 Fiqh Dakwah

  1.  Dakwah adalah Muhimmatur Rusul (Tugas Utama Para Rasul alaihim ...

Baca Selengkapnya

Download Khutbah Ied
27-08-2011 Artikel

Khutbah Iedul Fithri 1432H Syarat Kebangkitan Bangsa Menurut al-Qur'an  - Muham ...

Baca Selengkapnya

Mewaspadai Perangkap Umniyah dalam Berdakwah
16-05-2011 Fiqh Dakwah

Umniyah atau keinginan dan cita-cita mulia para penyeru dakwah, kadang kala sering di ...

Baca Selengkapnya

Sampaikan Walau Satu Ayat
30-03-2011 Fiqh Dakwah

Adapun yang kita ajak adalah manusia seluruhnya, orang lain yang ada di sekitar kita ...

Baca Selengkapnya

Meneropong Metode Dakwah Rasulullah saw
31-05-2010 Fiqh Dakwah

Demikian pula dakwah menyeru kepada kebaikan Islam secara konprehensif ini juga sa ...

Baca Selengkapnya