Dilema Kasir Minimarket, Dimana Peran Kita?

Dibuat Tanggal 04-01-2011

Sesungguhnya pelarangan/keharaman minuman keras sudah jelas bagi orang-orang beragama, terutama bagi kaum muslimin. Dan keharaman itu tidak hanya menyangkut dzatnya (minuman kerasnya), tetapi juga memperjualbelikannya. Bahkan menurut para ulama, tercatat ada 10 pihak yg terkena dosa akibat minuman keras ini, yaitu: pembuatnya, distributornya, peminumnya, pembawanya, pengirimnya, penuangnya, penjualnya, pemakan uang hasilnya, pembayarnya, dan pemesannya.  
Penyakit-penyakit dan kerusakan-kerusakan yang terjadi sebagai dampak minuman keras sudah menjadi hal yang tidak terbantahkan. Baik itu penyakit dan kerusakan jasmani/fisik, juga penyakit dan kerusakan secara moral/spiritual, serta penyakit-penyakit sosial di masyarakat yang timbul sebagai dampaknya. Berita tentang penodongan, perampokan, pembunuhan, pemerkosaan dll yang berawal dari minuman keras sudah rutin menghiasi halaman-halaman surat kabar dan televisi negeri ini.

Ya.., saya kasihan kepada kasir.. yang telah melakukan transaksi jual beli minuman keras.. Juga kepada karyawan minimarket yang mengangkut, serta menatanya di rak-rak toko mereka. Terutama bagi mereka yang muslim. Banyak di antara mereka juga berjilbab, sebagian di antara mereka ada yang jelas juga merasa bersalah, karena telah ikut menjajakan minuman keras. Tapi mereka juga terpojok dengan kenyataan dan kondisi. Dunia kerja masih dirasa sempit, kompetisi mendapatkan pekerjaan semakin ketat. Jelas mereka lebih memilih bekerja daripada menganggur. Walaupun dengan kenyataan mereka menjadi bagian dari beredarnya minuman-minuman keras serta pemicu kejahatan-kejahatan yang terjadi di masyarakat. 

Di sisi lain pertumbuhan mini-minimarket serta 'maxi-maxi'market juga semakin besar. Ada pengamat yang mencatat bahwa pada periode empat tahun terakhir omzet pasar modern tumbuh 19,8%, tertinggi dibanding format ritel modern yang lain. Omzet department store, specialty store, dan format ritel modern lain masing-masing meningkat hanya 5,2%, 8,1%,dan 10% per tahun.

Memang dari sisi ini seolah terlihat semakin luas dan meningkatnya pertumbuhan ekonomi dan lapangan kerja. Tapi di sisi lain, jikalau mini-maxi market itu tetap saja menjual minuman keras, itu sama saja membuat semakin luas dan meningkatnya penjualan minuman keras, yang berdampak kepada meningkatnya penyakit fisik, moral, sosial serta kejahatan di negeri ini.

Kita sudah terlalu sering mendengar komentar-komentar tentang larangan peredaran minuman keras..yang sebenarnya sudah jelas rekomendasinya..yang sebenarnya sudah jelas bagi para pecinta kebaikan.. Larang saja dengan tegas penjualan minuman keras di mini-maxi market! Pemerintah, cendekiawan, para pendidik, penegak hukum serta siapa saja yang memiliki semangat perbaikan di negeri ini sudah selayaknya setuju dan sepakat menggolkan larangan tersebut serta diwujudkan dengan action yang jelas dan tegas hingga kita tidak menemukan lagi adanya minuman keras di mini-maxi market seluruh negeri ini..

Abu Ibrahim Abdussalaam
share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Pentingnya Dai
08-03-2018 Opini

Pada 2 Maret 2018 lalu saya menghadiri acara Silaturahmi Nasional (Silatnas) Ikatan ...

Baca Selengkapnya

Rohingya dan Dunia yang Terluka
05-09-2017 Opini

Rohingya dan Dunia yang Terluka Oleh Samson Rahman Pembantaian muslim Ro ...

Baca Selengkapnya

Rohingya Darahmu Menggugat
03-09-2017 Opini

ROHINGYA DARAHMU MENGGUGAT Oleh Samson Rahman Kau bagai seekor domba ...

Baca Selengkapnya

Niat dan Hukum
31-01-2017 Opini

NIAT DAN HUKUM By: Khairan Arif   1. Ahok menyatakan kepada Al-Jazi ...

Baca Selengkapnya

Mushola Stasiun Manggarai, Apa Yang Bisa Kita Lakukan?
02-10-2014 Opini

  Kurangnya fasilitas mushola di tempat-tempat umum ternyata masih saj ...

Baca Selengkapnya

Download Khutbah Ied
27-08-2011 Artikel

Khutbah Iedul Fithri 1432H Syarat Kebangkitan Bangsa Menurut al-Qur'an  - Muham ...

Baca Selengkapnya