Dakwah Wasathiyah

Dibuat Tanggal 10-02-2021

Dakwah Wasathiyah

Oleh Alexander Zulkarnaen*

 

Salah satu rahasia agar dakwah diterima di semua kalangan, tidak terjadi penolakan yang masif, dan pada gilirannya membuahkan hasil dan memberikan efek posisif dalam memajukan umat adalah sangat dipengaruhi oleh model dakwah itu sendiri. Pasti akan terjadi pertentangan di masyarakat jika dakwah itu dakwah yang radikal, intoleran, eksklusif, mudah membid’ahkan bahkan mengkafirkan orang, kaku, keras dan ghuluw. Sebagaimana juga membahayakan jika dakwah itu dakwah liberal dan permisif. Benturan dua model dakwah yang saling bertentangan ini, antara ekstrim kanan (tafrith) dan ekstrim kiri (ifrath), sangat berbahaya bagi peradaban Islam. Kondisi ini menimbulkan kesan negatif dan melahirkan stigma buruk terhadap dakwah Islam.

Hal ini pernah disampaikan Syeikh Yusuf Al Qardawi dalam kitabnya Kalimaat Fii al-Wasathiyah al-Islaamiyah Wa Ma’aalimihaaMasyarakat muslim kadang terbagi menjadi dua kubu yang saling berseberangan, yang satu bersikap terlalu keras, berlebihan, maunya menang sendiri, mengangggap yang lain salah, dan tidak terbuka menerima pendapat pihak lain. Sementara yang satu lagi bersikap sangat terbuka, semua hal bisa dilihat dan dipandang dengan multi tafsir bagi mereka, memperbolehkan ijtihad dalam segala bidang agama, dan semua ajaran Islam layak untuk ditelaah kembali dengan tidak mengindahkan nilai-nilai permanensi dan perubahan.”

Maka menjadi sebuah keniscayaan bagi para Da’i untuk kembali kepada model dakwah Rasulullah SAW sebagai Da’i sejati yang sukses pembawa rahmat dan hidayah. Baginda Nabi telah berhasil dengan izin Allah SWT mengeluarkan manusia dari gelapnya kesyirikan menuju cahaya iman, dari kekufuran menuju keimanan, dari kesesatan menuju petunjuk, dari kebathilan yang gelap gulita menuju kebenaran yang terang benderang, dari maksiat menuju taat, dari biadab menuju masyarakat yang beradab, dari jalan hidup yang berbeda-beda menuju jalan Allah yang satu dan lurus, yakni Islam sampai di penjuru dunia dan sampai akhir masa.

Salah satu model dakwah Rasulullah SAW adalah dakwah Wasathiyah. Apa itu dakwah Wasathiyah dan apa saja karakterisktik dakwah Wasathiyah yang dimaksud sehingga menjadi pedoman bagi para Da’i agar tugas yang diwarisi para Nabi ini menjadi dakwah muntijah (produktif) menebar kesejukan dan kedamaian.

Wasathiyah berasal dari akar kata wasatha” yang memiliki arti sesuatu yang berada di tengah di antara dua sisi. Sedangkan dalam tinjauan terminologi Syeikh Yusuf Al Qardawi mengatakan bahwa Wasathiyah adalah mengambil jalan tengah dan seimbang antara dua ujung yang saling berseberangan berlawanan dimana jalan itu tidak terpengaruh oleh salah satunya dan menolak salah satunya, jalan yang tidak salah satu dari dua ujung tersebut mengambil haknya secara berlebih sehingga melampui yang lainnya. Wasathiyah juga bisa diartikan sebagai ajaran Islam yang moderat,  mengarahkan umatnya agar adil, seimbang, proporsional dalam semua dimensi kehidupan (Khairan Muhammad Arif, 2020 : 23).

Sesungguhnya Wasathiyah bukanlah risalah baru atau ijtihad kontemporer yang muncul di abad ini. Namun Wasathiyah atau moderasi Islam telah ada sejak turunnya wahyu dan hadirnya Islam yang dibawa Rasulullah SAW di muka bumi pada 14 abad yang lalu.

Terbukti dengan adanya kata Wasathiyah yang disebutkan dalam Alquran, di antaranya bermakna sikap adil dan pilihan. “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu". (QS. Al-Baqarah: 143).

Dalam Hadis juga terdapat kata Wasathiyah, di antaranya hadis riwayat dari Abu Sa'id berkata, Rasulullah SAW  bersabda, “(Pada hari qiyamat) Nabi Nuh as dan ummatnya datang lalu Allah Ta'ala berfirman, “Apakah kamu telah menyampaikan (ajaran)? Nuh as menjawab, “Sudah, wahai Rabbku”. Kemudian Allah bertanya kepada ummatnya, “Apakah benar dia telah menyampaikan kepada kalian?” Mereka menjawab, “Tidak. Tidak ada seorang Nabi pun yang datang kepada kami” Lalu Allah berfirman kepada Nuh as, “Siapa yang menjadi saksi atasmu?” Nabi Nuh as, “Muhammad SAW dan ummatnya” Maka kami pun bersaksi bahwa Nabi Nuh as telah menyampaikan risalah yang diembannya kepada ummatnya. Begitulah seperti yang difirmankan Allah Yang Maha Tinggi (QS. al-Baqarah ayat 143 : “Dan demikianlah kami telah menjadikan kalian sebagai ummat pertengahan untuk menjadi saksi atas manusia..”).  Al-washath artinya al-Adl (adil). (HR. Bukhari).

Lantas, seperti apa dakwah Wasathiyah itu? Majelis Ulama Indonesia melalui Komisi Dakwah telah menyusun pedoman dakwah yang di dalamnya terdapat 10 karakteristik dakwah Wasathiyah sebagai ajaran Islam yang sempurna. 1. Tawassuth (mengambil jalan tengah) yaitu pemahaman dan pengamalan yang tidak ifrath (berlebih-lebihan dalam beragama) dan tafrith (mengurangi ajaran agama), 2. Tawazun (berkeseimbangan) yaitu pemahaman dan pengamalan agama secara seimbang yang meliputi semua aspek kehidupan baik duniawi maupun ukhrawi, tegas dalam menyatakan prinsip yang dapat membedakan antara inhiraf (penyimpangan) dan ikhtilaf (perbedaan), 3. I’tidal (lurus dan tegas), yaitu menempatkan sesuatu pada tempatnya dan melaksanakan hak dan memenuhi kewajiban secara proporsional, 4. Tasamuh (toleransi) yaitu mengakui dan menghormati perbedaan, baik dalam aspek keagamaan dan berbagai aspek kehidupan lainnya, 5. Musawah (egaliter) yaitu tidak bersikap diskriminatif pada yang lain disebabkan perbedaan keyakinan atau agama, tradisi dan asal usul seseorang, 6. Syura (musyawarah) yaitu setiap persoalan diselesaikan dengan jalan musyawarah untuk mencapai mufakat dengan prinsip menempatkan kemaslahatan di atas segalanya, 7. Ishlah (reformasi) yaitu mengutamakan prinsip reformatif untuk mencapai keadaan lebih baik yang mengakomodasi perubahan dan kemajuan zaman dengan berpijak pada kemaslahatan umum (mashlahah ‘amah) dengan tetap berpegang pada prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadimi al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadidi al-ashlah (merawat tradisi merespon moderenisasi), 8. Awlawiyah (mendahulukan yang prioritas) yaitu kemampuan mengidentifikasi hal-ihwal yang lebih penting harus diutamakan untuk diimplementasikan dibandingkan dengan yang kepentingannya lebih rendah, 9. Tathawwur wa Ibtikar (dinamis dan inovatif) yaitu selalu terbuka untuk melakukan perubahan-perubahan sesuai dengan perkembangan zaman serta menciptakan hal baru untuk kemaslahamatan dan kemajuan umat manusia, 10. Tahadhdhur (berkeadaban) yaitu menjunjung tinggi akhlakul karimah, karakter, identitas, dan integritas sebagai khairu ummah dalam kehidupan kemanusiaan dan peradaban.

Senada dengan kosep dakwah Wasathiyah yang disusun oleh MUI di atas, Syeikh Jum’ah Amin Abdul Aziz juga menuliskan dalam kitabnya Ad-Da’wah Qawa’id wa Ushul, 10 karakter dakwah berikut ; 1. Rabbaniyah (bersumber dari wahyu Allah SWT), 2. Wasathiyah (tengah-tengah atau tawazun/seimbang), 3. Ijabiyah (positif dalam memandang alam, manusia dan kehidupan, 4. Waqi’iyah (realistis dalam memperlakukan individu dan masyarakat, 5. Akhlaqiyah (sarat dengan nilai kebenaran, baik dalam sarana maupun tujuannya, 6. Syumuliyah (utuh dan menyeluruh dalam manhajnya), 7. ‘Alamiyah (bersifat mendunia), 8. Syuriyah (berpijak di atas prinsip musyawarah dalam menentukan segala sesyatunya, 9. Jihadiyah (bersungguh-sungguh dalam menyebarkan dakwah), 10. Salafiyah (menjaga orisinalitas dalam pemahaman dan akidah).

Syeikh Jum’ah Amin Abdul Aziz dalam kitab yang sama juga melengkapinya dengan 10 kaidah berdakwah ; 1. Al Qudwah qobla Ad Da’wah (memberi keteladanan sebelum berdakwah), 2. At Ta’lif qobla At Ta’rif (mengikat hati sebelum menjelaskan), 3. At At’rif qobla At Taklif (mengenalkan sebelum memberi beban), 4. At Tadarruj fi At Taklif (bertahap dalam pembebanan), 5. At Taysir la At Ta’sir (memudahkan bukan menyulitkan), 6. Al Ushul qobla Al Furu’ (yang pokok sebelum yang cabang), 7. At Targhib qobla At Tarhib (membesarkan hati sebelum memberi ancaman), 8. At Tafhim la At Talqin (memahamkan bukan mendikte), 9. At Tarbiyah la At Ta’riyah (mendidik bukan menelanjangi), 10. Tilmiz imam la tilmiz kitab (muridnya guru bukan muridnya buku). Allahua’lam bishshawab.

 

*Ketua Deputi Humas IKADI SUMUT

 

 

 

 

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Taqarrub Kepada Allah Swt
29-07-2021 Tafakkur

 Taqarrub kepada Allah swt Perspektif Al-Qur’an Dr. Atabik Luthfi, MA &nb ...

Baca Selengkapnya

WUKUF ARAFAH, Momentum TAUBAT NASIONAL dan GLOBAL
19-07-2021 Tafakkur

    WUKUF ARAFAH, Momentum TAUBAT NASIONAL dan GLOBAL   Oleh:  ...

Baca Selengkapnya

Doa Menyambut Ramadhan
25-03-2021 Tafakkur

  Doa Menyambut Ramadhan Semoga doa ini diijabah Allah SWT dan kita semua mampu ...

Baca Selengkapnya

Amalan Syakban
16-03-2021 Tafakkur

Amalan Syakban   Syakban merupakan bulan ke-delapan dalam sistem penanggalan tah ...

Baca Selengkapnya

Keunikan Shalat Berjamaah
10-03-2021 Tafakkur

Keunikan Shalat Berjamaah Sesungguhnya shalat adalah ibadah yang istimewa sekaligus un ...

Baca Selengkapnya

Rajab, Perbanyak Istighfar
25-02-2021 Tafakkur

Rajab, Perbanyak Istighfar Rasulullah SAW bersabda dalam riwayat Anas bin Malik ra, &l ...

Baca Selengkapnya