Dakwah Pencerah, Penyejuk dan Penyatu

Dibuat Tanggal 02-03-2015
Ummat Islam kini, baik di Indonesia secara khusus maupun di seluruh dunia secara umum, sedang menunggu-nunggu lahir dan tampilnya generasi baru. Ya, generasi baru dengan muwashafat (karakteristik) khusus dan istimewa, yang diharap membawa ruh baru, orientasi baru, komitmen baru, dan peran dakwah baru, bagi Ummat yang telah demikian lelah oleh beragam perbedaan yang membingungkan, berbagai perselisihan yang merancukan, dan beraneka ragam perpecahan serta pertikaian yang meluluh lantakkan sendi-sendi kekuatan, ukhuwah, persaudaraan, dan persatuan!
 
Maka yang sedang dibutuhkan oleh Ummat saat ini, adalah generasi pengemban dakwah yang mampu menampilkan Islam nan indah lagi menawan. Dan itu hanya terwujud jika dakwah mereka ditunaikan benar-benar dengan hikmah, yakni dengan ilmu yang dipadu rasa, dan dengan bijak yang penuh sikap tanggung jawab! (QS. 16: 125). Ya, itu hanya bisa terealisir bila dakwah betul-betul dibangun diatas landasan sikap saling ber-wala’ (saling loyal, bantu dan dukung) dalam iman, ukhuwah, amal saleh dan ketaatan (lihat QS. 8: 73; 9: 71; 49: 10).
 
Yang dibutuhkan oleh Ummat saat ini adalah para juru dakwah yang mengacu pada prinsip ta’awun (saling bekerja sama) atas dasar kebajikan dan ketaqwaan, bukan dalam dosa, kemaksiatan dan permusuhan (QS. 5: 2). Atau sikap mereka dalam dakwah yang setidaknya masih “menyisakan” husnudzan/baik sangka, bukan saling suudzan/buruk sangka antar sesama penghuni rumah besar ASWAJA (Ahlussunnah Waljamaah).
 
Oleh karena itu jalan dan garis dakwah yang harus dipilih dan dilalui oleh generasi pembaharu baru, adalah dengan saling mengakui, mentoleransi dan menghargai, bukan saling menolak, menafikan dan mentabiri. Saling mendukung, bukan saling memasung. Saling mengindahkan, bukan saling memburukkan. Saling memberi kemanfaatan, bukan saling memadharatkan. Saling menguatkan, bukan saling melemahkan. Saling memudahkan, bukan saling menyulitkan. Saling memotivasi dan menyemangati, bukan saling membuat lari (lihat: HR. Bukhari dan Muslim). Saling mengasihi, merahmati dan menasehati, bukan saling mendendam mendengki, mencaci maki dan menyakiti. Saling memikat, mendekat dan merapat, bukan saling “memecat” (baik dari Islam dengan mengkafir-kafirkan, maupun dari ASWAJA dengan membid’ah-bid’ahkan), atau saling menghujat dan melaknat. Jadi, intinya, garis, jalan dan komitmen “generasi ruh baru” adalah berdakwah bilhikmah, yakni berdakwah secara mencerahkan bukan membingungkan, menyejukkan bukan menyesakkan, dan menyatukan bukan mencerai beraikan!
 
Ustadz Ahmad Mudzoffar, MA
 
(Sumber: IKADI Surabaya)
share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Pentingnya Muhasabah
10-06-2018 Mauizhoh

  Muhasabah berasal dari akar kata hasiba yahsabu hisab secara etimologis b ...

Baca Selengkapnya

Shaum dan Kemanusiaan
28-05-2017 Mauizhoh

Shaum dan Kemanusiaan Oleh: Prof. KH Ahmad Satori Ismail   Islam ad ...

Baca Selengkapnya

Agar Memiliki Kekayaan Hakiki
13-01-2017 Mauizhoh

Oleh: KH Ahmad Satori Ismail   Khubeib bin Adi RA berkata, "Kami s ...

Baca Selengkapnya

Agar Hati Selalu Ikhlas
07-10-2016 Mauizhoh

Seorang ulama yang bernama Sufyan Ats Tsauri pernah berkata, “Sesuatu yang pal ...

Baca Selengkapnya

Balasan Bagi Yang Sabar
19-07-2016 Mauizhoh

Sabar adalah salah satu terapi penyakit hati. Kata sabar sangat mudah diucapkan ...

Baca Selengkapnya

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah
10-05-2016 Mauizhoh

Resign dari Dakwah: Menelisik Diri untuk Berbenah ______________________ @dw ...

Baca Selengkapnya