Bahasa Dakwah Perspektif Al-Qur'an

Dibuat Tanggal 07-12-2019

 

Bahasa Dakwah Perspektif Al-Qur'an

Oleh: Dr. Atabik Luthfi, MA

 

Al-Qur'an sebagai rujukan utama dalam memahami dakwah, menggunakan beragam bahasa untuk menyebut aktifitas dakwah yang juga beragam, ditinjau dari berbagai aspeknya. Salah satu yang menarik untuk dikaji adalah penggunaan redaksi 'kata kerja dakwah' yang berbeda oleh Al-Qur'an. Al-Qur'an menggunakan tiga kata kerja, yaitu Fi'il Madhi,  fi'il Mudhari, dan fi' il Amr, yang mengisyaratkan beragam makna dakwah pada tataran prakteknya.

          Pertama, Fi'il Madhi (دعا)، yang menunjukkan kepertamaan dan orisinalitas dakwah. Saat Adam as diciptakan, mulailah dakwah, yaitu dengan adanya perintah agar semua makhluk sujud kepada Adam as, dan dengan adanya larangan agar Adam as tidak mendekati pohon khuldi. Dakwah juga sudah bermula, saat Iblis mulai menggoda dan merayu Adam as dan Hawa, agar melanggar larangan Allah swt. Karena inti dakwah adalah antara perintah dan larangan. Perintah untuk menjalankan berbagai kebaikan, dan larangan untuk menghindari keburukan.

          Dakwah dengan menggunakan fi'il madhi dapat ditemukan di surat Fushilat: 33

(وَمَنۡ أَحۡسَنُ قَوۡلࣰا مِّمَّن دَعَاۤ إِلَى ٱللَّهِ وَعَمِلَ صَـٰلِحࣰا وَقَالَ إِنَّنِی مِنَ ٱلۡمُسۡلِمِینَ)

"Dan siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata, “Sungguh, aku termasuk orang-orang muslim (yang berserah diri)?”

          Kata دعا yang diartikan berdakwah atau menyeru merupakan bentuk fi'il madhi, yang secara bahasa diartikan perbuatan di masa lampau. Dan  ungkapan 'siapa yang lebih baik perkataannya' mengisyaratkan bahwa dakwah terawal adalah dakwah 'bil lisan', yaitu ucapan atau perkataan yang baik, yang mengajak kepada Allah swt, kemudian dibuktikan dengan dakwah 'bil hal' dalam bentuk perilaku dan perbuatan amal shalih

          Kedua, Fi'il Mudhari (يدعو - يدعون ). Fi'il mudhari menunjukkan perbuatan sekarang dan yang akan datang, atau menunjukkan sesuatu yang berkesinambungan. Dakwah dengan shighat fi'il mudhari  ini menunjukkan bahwa dakwah itu harus dimulai dari sekarang, dan terus berlangsung hingga batas waktu yang tidak diketahui. Urusan dakwah adalah urusan sekarang dan urusan masa yang akan datang. Atau dakwah berakhir seiring dengan berakhirnya kehidupan. Itulah tabi'at dakwah dengan fi'il mudhari yang menunjukkan waktu yang tidak terbatas.

          Diantara ayat yang menyebut dakwah dengan fi'il mudhari ialah surat Ali Imran: 104 :

 (وَلۡتَكُن مِّنكُمۡ أُمَّةࣱ یَدۡعُونَ إِلَى ٱلۡخَیۡرِ وَیَأۡمُرُونَ بِٱلۡمَعۡرُوفِ وَیَنۡهَوۡنَ عَنِ ٱلۡمُنكَرِۚ وَأُو۟لَـٰۤىِٕكَ هُمُ ٱلۡمُفۡلِحُونَ)

"Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung".

          Ayat ini selain menyampaikan perintah agar selalu ada 'ummat' yang menjalankan tugas dakwah, namun sekaligus jaminan Allah bahwa akan senantiasa hadir 'ummat' yang berusaha menjalankan dakwah sejak keberadaan mereka hingga kepergian mereka. Dakwah mereka adalah dakwah kepada kebaikan yang bersifat umum, yaitu 'khair'.

          Mereka yang terus menerus menjalankan aktifitas dakwah secara berterusan dan berkesinambungan akan meraih keberuntungan dunia dan akhirat 'Al-Muflihun'. Bahasa dakwah Al-Qur'an dengan shighat fi'il mudhari ini mengingatkan akan estafeta dakwah dari satu generasi ke generasi berikutnya, yang dibahasakan oleh ayat di atas dengan bahasa 'ummat'.

          Ketiga, Fi'il Amr (ادع) yang menunjukkan bahwak dakwah itu instruksi dan perintah langsung dari Allah swt. Para nabi dijadikan sebagai teladan dalam menjalankan perintah dakwah dari Allah swt. Karenanya secara hukum, berdakwah adalah fardhu 'Ain, kewajiban yang bersifat personal individual. Tentu sesuai dengan kemampuan dan profesi yang digelutinya. Para nabi pun menjalankan perintah dakwah ini dengan beragam cara dan strategi.

          Diantara ayat dakwah dalam bentuk fi'il Amr adalah An-Nahl: 125

(ٱدۡعُ إِلَىٰ سَبِیلِ رَبِّكَ بِٱلۡحِكۡمَةِ وَٱلۡمَوۡعِظَةِ ٱلۡحَسَنَةِۖ وَجَـٰدِلۡهُم بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعۡلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِیلِهِۦ وَهُوَ أَعۡلَمُ بِٱلۡمُهۡتَدِینَ)

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk".

          Perintah 'serulah' (ادع) bersifat umum yang ditujukan kepada semua hamba Allah swt, dengan beragam keadaan dan tugasnya. Da'i dalam konteks ini adalah siapa saja yang menjalankan fungsi menyeru kepada kebaikan, dimanapun dan kapanpun ia dapat menjalankan tugas dakwahnya.

          Karena bersifat umum, maka ayat di atas memandu bagaimana berdakwah dengan berbagai metode dan cara berdakwah. Ada tiga pilihan yang disebut di ayat, yaitu dengan hikmah, mau'idhah hasanah (nasehat yang baik),, dan jidal (dialog, debat) dengan cara yang lebih baik. Beragam cara berarti beragam mad'u, berarti pula beragam jenis, ruang, dan model dakwah sebagai implementasi perintah Allah swt.

          Ketiga metode dakwah yang ditawarkan oleh ayat ini, dalam pandangan Imam Al-Maraghi memandangkan objek dakwah yang dihadapi juga beragam. Ada yang mudah disentuh dengan hikmah, ada yang perlu dengan nasehat, malah ada yang perlu dilayani dengan diskusi dan dialog yang memerlukan waktu yang panjang, dan cara yang lebih baik dan sesuai.

          Dakwah dalam hal ini bersifat alamiah, karena semua manusia diperintah berdakwah, tanpa terkecuali, sedang kemampuan dan profesi manusia pun ditakdirkan oleh Allah bermacam-macam. Sehingga dakwah tidak boleh dikesani sebagai sesuatu yang berat; seperti harus mampu berceramah, menyampaikan khutbah, menyusun strategi dakwah, memiliki lembaga dakwah, dan sebagainya. Namun dakwah adalah semua aktifitas kehidupan manusia. Bagaimana makan, minum, berkeluarga, berolahraga, berbudaya, bersosial, bekerja, dan berprofesinya seseorang pun dapat bermuatan dan bernilai dakwah, agar termasuk dan dinilai sedang menjalankan perintah Allah swt.

 

          Demikian bahasa yang digunakan oleh Al-Qur'an dalam menyampaikan pesan dakwah. Ketiga shighat kata kerja yang digunakan menunjukkan perhatian besar Al-Qur'an terhadap persoalan dakwah. Dakwah itu yang paling awal, terus berlangsung, dan merupakan perintah Allah swt kepada semua hambaNya, dengan menerapkan berbagai metode dan cara dakwah yang sesuai dengan situasi dan kondisi yang terus dinamis dan berkembang dari satu masa ke masa berikutnya...

 

share Share
Facebook Google LinkedIn Twitter Email Print
Artikel Terkait
Amalan Berpahala Haji
09-08-2019 Kajian

AMALAN BERPAHALA HAJI Oleh: Dr. Ahmad Kusyairi Suhail, Lc, MA Dosen FDI UIN Syarif ...

Baca Selengkapnya

Panduan Amaliah 10 Hari Pertama Dzulhijjah
02-08-2019 Kajian

PANDUAN AMALIAH 10 HARI PERTAMA DZULHIJJAH   Segala puji hanya milik Allah swt ...

Baca Selengkapnya

Islam adalah Agama Privat dan Publik
10-03-2017 Kajian

Paham konvensional sekolompok umat Islam, bahwa Islam adalah agama privat, tidak ada ...

Baca Selengkapnya

Fadhilah Dan Doa Hari Arafah
09-09-2016 Kajian

Baginda Sayyiduna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda (yang ...

Baca Selengkapnya

Pembekalan Yang Efektif (Tadabbur QS. Al-Muzammil)
08-08-2016 Kajian

Tadabbur QS. Al-Muzammil PEMBEKALAN YANG EFEKTIF* Dr. Saiful Bahri, M.A** ...

Baca Selengkapnya

Hukum Menyerahkan Kekuasaan Kepada Orang Kafir
31-03-2016 Kajian

Islam dan Batasan Toleransi Pada hakekatnya Islam sangat mengajarka ...

Baca Selengkapnya